PAKEM – Halaman Kantor Kapanewon Pakem menjadi saksi bisu penghormatan terhadap sejarah panjang wilayah lereng Merapi pada Rabu (13/5/2026). Ratusan warga dari lima kalurahan berkumpul mengenakan busana tradisional untuk mengikuti prosesi Bedhol Praja, sebuah tradisi tahunan yang memvisualisasikan perpindahan pusat pemerintahan sekaligus menjaga marwah sejarah wilayah Pakem yang telah berakar lebih dari satu abad.
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya, yang turut menyaksikan kirab bregodo sebagai simbol estafet kepemimpinan dari masa ke masa. Tradisi Bedhol Praja tahun ini terasa lebih bermakna karena membawa kembali ingatan kolektif masyarakat pada era tahun 1896, saat Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat mendirikan Pasar Srowolan di Kalurahan Purwobinangun sebagai pusat gravitasi ekonomi di wilayah utara.
Dalam sambutannya, Bupati Harda Kiswaya menegaskan bahwa Bedhol Praja adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Beliau mengingatkan bahwa tradisi dan budaya adalah identitas sekaligus jati diri yang harus dijaga agar manusia tidak ibarat pohon tanpa akar yang mudah tumbang. Nilai sejarah Pakem memang sangat mendalam, mengingat wilayah ini pernah menjadi basis pertahanan krusial saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948. Kala itu, Srowolan berfungsi sebagai “Pasar Perjuangan” dan pusat logistik pangan bagi para gerilyawan, Tentara Pelajar, hingga menjadi markas gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Keistimewaan sejarah Pakem juga diperkuat dengan jejak tokoh bangsa, Sayuti Melik. Pengetik naskah proklamasi tersebut tercatat menghabiskan masa kecilnya di Srowolan dan menimba ilmu di Sekolah Ongko Loro yang berlokasi di kompleks Kemantren Pakem. Hubungan historis ini menjadikan setiap langkah kirab budaya dalam Bedhol Praja sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat perjuangan para leluhur dan tokoh perintis kemerdekaan.
Seiring tuntutan efisiensi dan aksesibilitas modern, pusat pemerintahan secara bertahap dipindahkan dari Srowolan ke lokasi yang lebih strategis di Pakem Gede pada tahun 1950-an. Transformasi ini memuncak dengan pembangunan gedung baru di Jalan Cangkringan pada tahun 1984. Perpindahan ini tidak hanya memudahkan koordinasi pelayanan publik di jalur utama, tetapi juga memperkuat sinergi mitigasi bencana mengingat posisi Pakem sebagai Kawasan Rawan Bencana (KRB) Merapi.
Melalui momentum ini, Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat semangat golong gilig atau bersatu padu. Kembalinya nomenklatur Kapanewon sejak tahun 2020 sesuai UU Keistimewaan DIY pun dipandang sebagai langkah penting untuk merekonsiliasi sejarah modern Pakem dengan akar budayanya. Dengan penyelenggaraan Bedhol Praja, Kapanewon Pakem membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak akan menghapus jejak heroik yang lahir dari tanah Srowolan sekian dekade silam.

Be the first to comment