Budaya Satriya dalam Pembinaan Rohani

Budaya Pemerintahan SATRIYA yang telah ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Nomor 72 Tahun 2008 tentang Budaya Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah bentuk komitmen dalam mencapai keberhasilan transformasi birokrasi yang berbasiskan pada nilai nilai kearifan lokal.  Satriya sebagai singkatan dari Selaras, Akal budi luhur, Teladan, Rela melayani, Inovatif, Yakin dan Ahli.

Sebagai implementasi dari Selaras yang diantara indikatornya  adalah Taqwa, taat dan patuh pada nilai-nilai ajaran agama, menjaga hubungan yang harmonis dengan keluarga, rekan kerja dan masyarakat, Kapanewon Pakem mengadakan pembinaan rohani bagi karyawan karyawati. Pada tanggal 25 November 2022 di Pendopo Kapanewon Pakem yang diikuti seluruh ASN dengan mengundang Ustadz dari Kantor Urusan Agama Kapanewon Pakem, Komrul Huda, S.Ag.

“4 (empat) golongan yang dirindukan surga adalah, orang yang suka membaca kitab, menjaga lidahnya, memberi kebahagiaan dan mengendalikan diri dari keinginan,” Komrul Huda mengawali tausiyahnya.

Golongan pertama yang dirindukan surga adalah orang yang (gemar) membaca Kitab Suci. Yang dimaksud dengan membaca Kitab disini adalah membaca dan memahami makna yang terkandung dalam Kitab. Orang yang selalu membaca Kitabnya, akan merasa tenang, segala perilakunya bersandarkan pada Kitabnya, selalu mengisi hidupnya dengan berpedoman pada Kitabnya.

Golongan kedua adalah orang-orang yang menjaga lisan. Lisan adalah salah satu anggota tubuh yang merupakan nikmat tetapi juga dapat menjadi boomerang. Kita harus bisa menjaga ucapan kita, mengendalikan diri dari kata-kata kotor, menghujat, memfitnah. Berusaha selalu menjaga lisannya untuk selalu berkata baik dan menyenangkan.

Golongan ketiga adalah orang yang memberi kebahagiaan. Membuat orang lain senang, bahagia merupakan hal yang sangat baik namun kesenangan dan kebahagiaan itu tetap berpedoman pada Kitab, tidak boleh melanggar dan bahkan menentang.

Golongan keempat adalah mengendalikan diri dari keinginan. Manusia mempunyai banyak keinginan yang semua itu berharap bisa terpenuhi. Kadang kala melebihi dari keuangan dan kemampuan yang ada. Sebagai umat beragama harus bisa mengendalikan keinginannya, bisa memilih dan memilah antara yang penting dan yang hanya untuk kemewahan belaka.

“Jika 4 golongan tersebut bisa dilaksanakan, sebagai warga Daerah Istimewa Yogyakarta sudah mengimplementasikan Budaya Satriya, ASN Berakhlak akan terwujud,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*