Nikah Bareng dengan Mahar Buah salak

Kegiatan nikah masal ini diinisiasi oleh Forum Ta’aruf Indonesia (Fortais) yang bekerja sama dengan berbagai vendor antara lain Paguyuban Pranatacara Yogyakarta (PPY), beberapa make up artist, RS Siloam Hospital Jogjakarta, hingga penyedia jasa fotografi dan videografi menginisiasi kegiatan nikah massal bertajuk Nikah Bareng Merapi “Energy of Montain Merapi”, Kamis, 19 Mei 2022 pukul 10.00 WIB di Kemuning Kopi dan Senja yang terletak di Jalan Pakem-Turi Km 2,7, Jamblangan, Purwobinangun, Pakem.

Nikah masal ini diikuti oleh tujuh pasangan calon pengantin. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Batam, Bantul, dan Sleman. Dari tujuh pasang itu, empat pasang menikah di KUA Kapanewon Pakem dan tiga pasang menikah di Kemuning Kopi dan Senja.

Pasangan yang mengikuti nikah masal ini tidak dikenai biaya apapun (gratis), biaya ditanggung oleh Panitia. Dan uniknya mahar berupa cincin seberat 4 gram dan buah salak seberat 1 kilogram. Pakaian yang dipakai dalam prosesi berupa pakaian adat nusantara,  pakaian adat Surabaya, Kota Gadang, Palembang, Lampung, Bugis, Batak Mandaleng, dan Sunda Siger.

Ketua Panitia Golek Garwo Fortais Indonesia dan Nikah Bareng Nasional RM. Ryan Budi Nuryanto menjelaskan gelaran nikah masal ini bertepatan dengan momentum istimewa menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan peringatan Hari Jadi Ke-106 Kabupaten Sleman.

Prosesi pernikahan masal dimulai sebelum pukul 07.00 WIB pagi dengan kegiatan rias calon pengantin. Empat pasang calon pengantin menuju KUA Kapanewon Pakem untuk melaksanakan ijab kabul dihadiri tamu undangan VIP dan undangan terbatas.

Tujuh pasangan  melakukan dari masjid Al Barokah menuju Kemuning Kopi dan Senja dilanjutkan penanaman bibit tanaman salak pondoh  yang didahului Bupati Sleman.

“Salah satu tujuan penyelenggaraan nikah masal ini untuk membangkitkan sektor ekonomi masyarakat dengan “wedding destination” karena destinasi wisata di Sleman mengalami kelesuan dalam dua tahun terakhir sebagai efek pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia”, kata Ryan Budi Nuryanto.

“Daerah DIY ini kaya akan kekayaan alam dan kulinernya, maka dari itu kegiatan ini mengusung konsep ‘wedding destination’ sehingga secara tidak langsung juga mengangkat potensi wisata yang ada di Sleman,” imbuhnya

“Konsep acara ini sangat menarik, karena tidak hanya membantu masyarakat untuk melakukan pernikahan, tapi juga membantu mempromosikan potensi wisata alam dan wisata kuliner yang ada di wilayah Sleman,” jelas Danang Maharsa.

Tiga pasang pengantin yang menikah di Kemuning Kopi dan Senja mengucapkan ijab kabul di tiga titik berbeda. Sepasang menikah di gejlik (pintu air dari besi) bendungan Kemuning, sepasang di tengah kebun salak dan sepasang di grojogan air di bawah bendungan. Bertindak sebagai saksi pertama untuk ketiga pernikahan tersebut adalah Wakil Bupati Sleman sedangkan saksi kedua untuk tiga pasangan tersebut berbeda-beda, yaitu untuk nikah di kebun salak RM. Ryan Budi Nuryanto, nikah di gejlik bendungan H. Julianto dan nikah di grojogan air Panewu Pakem Rakhmat Harinawan. Yang menikahkan ketiga pasangan adalah Eddy Hirmanto, kepala KUA Kapanewon Pakem.

Ketiga pasangan pengantin yang berasal dan menetap di Kapanewon Pakem mendapat kado berupa KTP-el dan Kartu Keluarga dengan status baru sudah kawin oleh Panewu Pakem Rakhmat Harinawan. Penyerahan buku nikah kepada tujuh pasangan diserahkan oleh Kepala KUA Kapanewon Pakem didampingi saksi dan tamu VIP.

“Kado pernikahan merupakan inovasi Kapanewon Pakem yang diperuntukan bagi pasangan pengantin yang menikah dan keduanya merupakan warga Kapanewon Pakem. Kepada calon pengantin, diminta agar dokumen kependudukan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan disimpan dengan hati-hati”, kata Rakhmat Harinawan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*